Senin, 31 Oktober 2011

Kelompok pelaku bom buku

Kelompok pelaku bom buku pimpinan Pepi Fernando dibentuk sejak Maret 2010. Awalnya, kelompok ini bertemu saat bergabung bersama jemaah Negara Islam Indonesia wilayah Bekasi pada akhir 2007. Karena menginginkan cara berjihad dengan perang, Pepi kemudian memisahkan diri dari jemaah NII. Pepi berencana mengajari anak buahnya, yaitu terdakwa Firman, Watono, Nanon, Darto, Wari, Febri, Ahmad, Toib, Hendrik, dan Juni Kurniawan, untuk belajar menggunakan senjata api.

Kelompok itu urung menggunakan senjata api karena harganya mahal. Mereka kemudian membuat bom rakitan. Hal ini terungkap dalam dakwaan kepada salah satu pelaku bom buku, Muhamad Maulana Sani alias Alan alias Hasab, di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Senin (31/10/2011).

April tahun 2010, Pepi Fernando kembali ke Aceh untuk mencari tempat melakukan pelatihan dengan senjata api. Namun, karena jihad dengan senjata api dirasa mahal, akhirnya Pepi mengumpulkan kelompoknya dan mengatakan jihad kelompoknya dengan bom," ujar anggota tim jaksa penuntut umum (JPU), Izam Zan, saat membaca dakwaan kepada Maulana di ruang sidang.

Sejak saat itu, kelompok Pepi mulai merakit bom dengan bahan-bahan murah dan mudah didapat. Pepi dan kelompoknya sempat membuat bom roket dengan bahan pipa, pupuk urea KNO3, dan arang. Tak disebutkan untuk apa bom itu dirakit.

Selain itu, mereka juga membuat bom termos air yang terdiri dari pupuk, baterai, dan batu korek api. Bom itu rencananya dipasang di wilayah Cawang, Jakarta Timur, saat rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melintas. Pada awal 2011, kelompok Pepi merencanakan pengeboman lebih lanjut. Di rumah pelaku Hendi di Parung (Bogor, Jawa Barat), Pepi membawa enam buah buku tebal berwarna putih dengan lubang di tengahnya terdapat kabel, baterai, dan stop kontak. Pepi menyebut buku itu sebagai sampel bom buku," jelas JPU.

Bom buku kemudian disebar di beberapa tempat seperti di Jalan Utan Kayu 68 yang ditujukan kepada tokoh pluralisme dan politisi Demokrat, Ulil Abshar Abdalah. Selain itu, bom serupa juga diberikan pada Kepala Badan Narkotika Nasional Goris Mere, rumah penyanyi terkenal Ahmad Dhani, dan rumah Ketua Umum Partai Patriot Yapto S Soeryosumarno.

Setelah praktik bom buku dilaksanakan, Pepi kemudian memunculkan ide bom tabung gas. Rencana itu ia sampaikan kepada kelompoknya pada 26 Maret 2011 di tempat pemancingan samping Kantor Wali Kota Jakarta Timur. Ia menyampaikan mengenai bom di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Tangerang Selatan, dan persiapan pembuatan bom tabung gas 3 kg di sebuah gereja untuk pengalihan isu bom buku.

Pepi juga meminta Maulana untuk menyediakan bubuk berwarna hitam seberat 3 kg sebagai bahan peledak dengan menggunakan karbit seukuran 20 kg. Berbagai aksi bom rakitan kelompok Pepi ini dilakukan untuk menunjukkan kepada dunia internasional mengenai aksi teror bom di Indonesia yang disiarkan langsung melalui televisi Aljazirah.
READ MORE ~> Kelompok pelaku bom buku

Rabu, 26 Oktober 2011

Persaingan di antara Deputi Gubernur Bank Indonesia

Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat menilai persaingan di antara Deputi Gubernur Bank Indonesia, Muliaman D Hadad dan Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk, Riswinandi bakal lebih menarik dibandingkan dua calon lainnya.

DPR sendiri menjadwalkan proses uji kepatutan dan kelayakan calon deputi Gubernur BI akan mulai dilaksanakan pada 23 November mendatang.

"Untuk posisi Pak Muliaman dan Pak Riswinandi, ini akan terjadi persaingan yang menarik. Sebab, Riswandi berasal dari luar,” kata Ketua Komisi XI DPR Achsanul Qosasi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis, 27 Oktober 2011.

Menurut Achsanul, persaingan antara Muliaman dan Riswinandi merupakan hal yang menarik, karena salah satu calon merupakan pihak yang bekerja langsung di dunia perbankan.

Terlebih lagi, pencalonan dua kandidat ini juga akan menjadi ujian bagi BI dalam meyakinkan pasar. "Dan bagaimana harapan masyarakat dengan adanya calon dari luar BI,” ujarnya.

Di samping kedua calon tersebut, DPR juga menjamin pihaknya tidak akan memberikan dukungan khusus kepada salah satu calon deputi gubernur BI. DPR memastikan bahwa semua calon memiliki peluang yang sama.

Terkait calon pengganti Budi Rochadi yaitu Perry Warjiyo dan Ronald Waas, Achsanul mengatakan bahwa kedua pegawai BI itu telah memiliki kinerja yang bagus.

Bahkan, DPR mengaku tidak meragukan kemampuan kedua calon tersebut. Hal itu terlihat dari dukungan kedua calon itu dalam pertumbuhan bank syariah dan tanggapan positif terhadap keberadaan otoritas jasa keuangan (OJK).

Achsanul mengungkapkan, sebelum proses fit and proper test dilaksanakan, DPR akan menyambangi sejumlah daerah seperti mengunjungi Kantor Bank Indonesia di Makassar dan Surabaya.
READ MORE ~> Persaingan di antara Deputi Gubernur Bank Indonesia

Sabtu, 08 Oktober 2011

Minimnya tempat istirahat di Jalan Lintas Tengah

Minimnya tempat istirahat di Jalan Lintas Tengah (Jalinteng) Betung-Sekayu (rest area) terus menimbulkan kecelakaan. Sebuah truk tangki BBM berpelat nomor BD 8709 AR yang dikemudikan Heri, 27, warga Bengkulu menghantam truk tronton BD 8232 AS yang tengah parkir, kemarin. Peristiwa ini terjadi di dekat jembatan Teluk dusun 3 desa Teluk kecamatan Lais Kabupaten Musi Banyuasin.

Diduga peristiwa ini terjadi akibat sopir mengantuk sebagai dampak minimnya tempat istirahat di sepanjang Jalinteng. Menurut Heri saat ditemui di RSUD Sekayu mengakui kalau dirinya mengantuk dan melihat kendaraan sudah oleng serta menabrak truk tronton yang sedang parkir.

Nahasnya, saat itu, Suherman,48 sopir truk tronton tertidur di dalam kendaraannya. Akibatnya warga Perumdam Bengkulu ini menderika luka di kepala bagian belakangnya dan harus menerima sejumlah jahitan dan mendapatkan perawatan di RSUD Sekayu. Kasat Lantas Polres Muba, AKP Ary Sudrajat melalui Kapolpos Simpang Gardu Aiptu Kheffenie mengatakan dari penyelidikan awal, kecelakaan tersebut terjadi karena kelalaian sopir akibat mengantuk. “Saat ini kita tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut,” jelasnya.

Sedangkan petugasnya telah melakukan olah TKP untuk menarik truk hino yang terperosok akibat ditabrak truk tangki.“ Secepatnya akan kita tarik truknya, karena badan besar sehingga agak sulit,”paparnya. Sebagian besar sopir truk mengeluhkan minimnya prasarana ataupun tempat peristirahatan mobil truk dan alat berat di Jalinteng tersebut. Banyak sopir yang berjalan sendiri sudah mulai mengantuk namun karena banyak hutan belantara dan jalan berliku sehingga tetap menahan rasa kantuknya. Menurut Lekat,41, warga Sekayu kejadian truk tergelincir masuk rawa dan semaksemak sudah beberapa kali terjadi.

Hal paling mengkhawatirkan jika masuk sungai disepanjang jalan di Lais. Penyebabnya banyak yang mengantuk ataupun mengebut dan menghindari kendaraan di depannya.“Di jalinteng Muba- Mura juga minim rambu jalan dan tempat peristirahatan yang layak. Belum lagi sulit cari pom bensin dan adanya di kota Sekayu,” tuturnya.
READ MORE ~> Minimnya tempat istirahat di Jalan Lintas Tengah